Minggu, 31 Mei 2015

RUNTUH 3

Yosua 6:20 dicatat “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.” Apa hubungan kedua ayat tersebut ?
Dalam kitab Yosua dijelaskan bahwa runtuhnya tembok disebabkan sorak-sorai (Shout). Dalam buku ‘Seni Menyembah’ karya  Selvaraj Sadhu Sundhar (Jakarta : Nafiri Gabriel, Oktober 199) disebutkan salah satu aspek ‘Pujian’ (Praise) adalah Shout. P (Prokliam) – R(Rejoice) – A(Applause) – I (Intimacy) – S(Shout) – E(Expression). Bersorak (shout) lebih dari sekedar bertepuk tangan, tetapi dengan segenap hati dan kekuatan meninggikan Allah dengan sorak– sorai. Bandingkan dengan kegembiraan yang meluap dengan penonton sepak bola piala dunia saat jagoannya menjadi pemenang. Keluar dari hati dan tiap orang memiliki penafsiran yang sangat pribadi tentang ekspresi.
Mungkin saat mereka mengeliling tembok Yerikho yang tebal sebanyak 13 kali, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, yang mereka lihat adalah hanya kemustahilan untuk menembus tembok tersebut. Karena perintah Tuhan hanya tidak boleh bicara “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah!” (Yos 6:10). Sehingga ketika mereka diperintahkan bersorak, pastilah teriakan yang keluar dari hati yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya karena tidak ada yang dapat mereka lakukan. Alias menyerah. Teriakan seperti itu tentu bukan keluar dari mulut saja atau ikut-ikutan, tetapi pekik sorak yang berwarnakan iman atas kepastian yang Tuhan janjikan.
PELAJARAN DARI RUNTUHNYA YERIKHO
Pelajaran pertama adalah Tuhan tidak pernah mengajar umatNya untuk lari dari persoalan yang ada di hadapannya. Tuhan juga tidak mengambil alih peperangan tersebut. Yang benar adalah Tuhan mengajari kita untuk berperang dengan suatu kepastian bahwa kemenangan pasti menjadi milik kita. Jadi kita harus mau berperang (menghadapi masalah), tetapi kita juga harus ingat bahwa dalam peperangan itu kita tidak sendirian, sebab Tuhan memberikan kemenangan bagi kita.
            Pelajaran kedua adalah Mengalahkan Persungutan. Salah satu pelajaran yang sederhana adalah mengalahkan persungutan.Terlalu mudah bagi Tuhan untuk dapat langsung memberikan Yeriko kepada Israel, tetapi Tuhan lebih memilih untuk mendidik Israel. Mereka harus tertib, tidak berbicara satu kata pun. Selama mengelilingi kota Yerikho, mungkin musuh mengolok-olok atau mencemooh mereka, menganggap hal itu perbuatan bodoh, tetapi orang Israel harus ingat  akan perintah Tuhan agar menjaga sikap dan mulut mereka. Selain itu pernahkah Saudara membayangkan betapa betenya (bosan) ketika mereka disuruh mengelilingi tembok itu dengan cara yang sama dan jarak yang sama setiap hari selama 6 hari.  Bahkan dikatakan hari ke 7 disuruh berkeliling 7 kali. Berarti hari sekalipun hari Sabat , yang adalah hari istirahat, tetap mengelilingi kota tersebut. Akitifitas seperti itu sepertinya pekerjaan yang tak berarti. Mereka hanya diminta berkeliling tanpa melakukan apapun. Rupanya mereka bukan hanya dibentuk untuk bersabar. Sabar mengerjakan walau sepertinya tak ada peluang. Tetapi yang terutama mereka harus meruntuhkan "sungut-sungut" atau "manja" mereka, karena di padang gurun mereka selalu bersungut-sungut.
Pelajaran ketiga penting karena . biasanya orang akan bersorak sorai ketika kemenangan telah diraih. Melalui peristiwa runtuhnya Yerikho kita diajarkan untuk bersorak sebelum menang! Coba diteliti, ketika bunyi sangkakala ditiup panjang, maka mereka harus bersorak sorai, padahal saat itu tembok Yerikho masih tetap berdiri tegak. TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur terlebih dahulu kepada ALLAH sekalipun persoalan yang sedang kita hadapi belum terselesaikan. Inilah prinsip yang harus ada di dalam kehidupan orang Kristen. Jika kita baru dapat bersyukur setelah memperoleh kemenangan, apa bedanya dengan orang yang tidak mengenal TUHAN? . Jadi metode peperangan yang digunakan oleh TUHAN sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh orang dunia.
Pelajaran keempat adalah Tuhan mau melatih kita. Setelah tembok Yerikho runtuh, tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh orang Israel adalah mereka maju dan merebut kota yang telah diruntuhkan itu. Jadi Tuhan tidak mengambil alih peperangan yang sedang kita hadapi, tetapi Ia mengajari kita untuk berperang dan setelah itu kita sendiri harus mau maju menghadapi dan memerangi musuh yang ada di hadapan kita. Melihat metode Tuhan ini, kita ambil suatu kesimpulan bahwa bukan kerja keras yang diposisikan di depan, melainkan ketaatan kepada Allah. Setelah tembok diruntuhkan, barulah kita bekerja keras untuk meraih kemenangan yang telah diberikan Tuhan bagi kita (diambil dari P# 17).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar