Minggu, 31 Mei 2015

KESETIAAN

Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."  Mazmur 121:5








       Tak seorang pun anak Tuhan yang tidak pernah mengecap kebaikan dan pertolongannya, bukan?  Tuhan itu setia dan tidak pernah ingkar janji.  Pemazmur berkata,  "Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya."  (Mazmur 145:13b).  Dan kepada jemaat di Tesalonika, rasul Paulus juga menegaskan bahwa  "...Tuhan adalah setia.  Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat."  (2 Tesalonika 3:3).


     Sudah berapa kali kita diluputkan Tuhan dari hal-hal jahat?  Sungguh tak terhitung banyaknya.  Itulah kesetiaan Tuhan!  Bagaimana dengan kesetiaan manusia?  Kesetiaan manusia itu rapuh dan ada batasnya.  Dikatakan rapuh, sebab kesetiaan manusia mudah berubah, sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang ada.  Apabila situasi dan kondisi sangat menguntungkan bagi dirinya, mereka akan setia.  Sebaliknya ketika kondisi tidak menguntungan, kesetiaan itu akan sirna sama sekali sampai-sampai dikatakan,  "...orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).

     Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena memiliki Tuhan yang setia.  Kesetiaan Tuhan itu juga mencakup pemeliharaan terhadap ancaman dari segala sesuatu yang jahat, baik itu kuasa jahat yang berasal dari Iblis atau kejahatan yang dilakukan oleh manusia.  Sebenernya kejahatan yang dilakukan manusia itu juga bersumber dari roh Iblis.  Namun Alkitab menegaskan,  "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?"  (Roma 8:31b).  Kita sering mendengar kesaksian dari hamba-hamba Tuhan yang mengalami tantangna atau perbuatan jahat yang ditujukan terhadap hidupnya.  ketika memberitakan injil ke daerah pedalaman mereka diserang oleh kuasa-kuasa jahat yang berusaha untuk membunuhnya, baik itu dengan ilmu-ilmu gaib atau sihir, mantera-mantera atau pun racun untuk membunuh mereka.  Tetapi tangan Tuhan menopang dan melindungi para hamba Tuhan itu terhadap yang jahat, sehingga kuasa maut tak mampu membunuhnya.  Ketika orang-orang jahat itu tak mampu membunuh para hamba Tuhan, mereka pun menjadi takut dan banyak dari mereka yang akhirnya bertobat dan menerima Injil.


Di sinilah kuasa Tuhan dinyatakan, karena itu jangan takut karena perlindungan Tuhan itu sempurna!

MENGAKUI ORANG LAIN

Semua orang tanpa terkecuali pasti suka dipuji, dihormati dan juga dihargai oleh orang lain.  Mereka tidak suka jika ada orang lain meremehkan, merendahkan atau menghina.  Pujian terhadap seseorang itu sangat berarti, bisa membangkitkan semangat baginya untuk bekerja dan berkarya lebih baik lagi dari yang telah dikerjakan.

     Jika seorang pemimpin perusahaan memuji pekerjaan salah satu karyawannya, si karyawan itu pasti akan makin bersemangat dalam bekerja dan berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi perusahaannya.  Sebaliknya jika pemimpin perusahaan terus mencela dan memarahi karyawan, si karyawan bukannya tambah semangat tapi malah makin frustasi dan ogah-ogahan mengerjakan tugasnya karena merasa bahwa apa yang dikerjakan selama ini tidak dihargai.  Jadi pujian dapat meningkatkan mutu atau kualitas pekerjaan seseorang.  Tentunya pujian yang kita berikan bukan saja pada hal-hal yang besar saja tetapi juga untuk perkara-perkara sekecil apa pun, karena  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."  (Lukas 16:10a).

     Pujian juga dapat membuka hati seseorang untuk menerima teguran atau kritikan dari orang lain.  Sayang, tidak semua orang bisa memberikan pujian kepada orang lain.  Hanya orang yang memiliki kerendahan hati yang mau mengakui kelebihan atau prestasi orang lain.  Tanpa kerendahan hati, seseorang sulit memuji orang lain.  Dengan adanya sikap rendah hati, kita bisa mengikis rasa ego kita, mau belajar dari orang lain dan bisa memberi pujian.  Hanya orang yang rendah hatilah yang dapat memuji orang lain dan mengakui kelebihannya.

     Mari kita belajar untuk menjadi orang yang rendah hati dan bukan lagi orang yang sombong, karena  "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan;  dan hanya Tuhan sajalah yang maha tinggi pada hari itu."  (Yesaya 2:11).  Sebaliknya, orang yang rendah hati dikasihi oleh Tuhan.  Pemazmur berkata,  "Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati."  (Mazmur 25:9).


Milikilah kerendahan hati karena itu berkenan di hati Tuhan dan ada berkat di dalamnya!

HARGAI

karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri."  Hagai 1:9b







      Bait Suci adalah tempat di mana kemuliaan Tuhan dinyatakan atas umatNya. Sayang, Bait Suci dalam bacaan hari ini telah menjadi puing-puing atau reruntuhan. Oleh karena itu tanpa kenal lelah nabi Hagai mengajak umat Tuhan untuk membangun kembali Bait Suci yang telah runtuh itu.  Bagaiman respons mereka?  "Bangsa ini berkata:  Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan!"  (Hagai 1:2).


Orang-orang tidak menanggapinya dengan serius dan cenderung meremehkan ajakan nabi Hagai.  Mereka enggan mendirikan Bait Suci lagi dan lebih suka mendirikan rumah mereka sendiri.  Ini menunjukkan bahwa mereka lebih mementingkan diri sendiri dari pada perkara-perkara rohani.  Perkara-perkara rohani bukan lagi prioritas utama dalam hidup mereka.  Apakah ini yang disebut dengan kemajuan rohani?  Bangsa Israel telah mengalami kemunduran rohani yang teramat dalam.  Pengalaman bangsa Israel inilah yang mendorong Rasul Paulus untuk mengingatkan jemaat di Galatia,  "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!"  (Galatia 3:3-4)

     Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang percaya saat ini;  semangat untuk melayani Tuhan sudah semakin kendor, padahal sebelumnya kita begitu berapi-api bagi Tuhan.  Namun setelah semuanya berjalan dengan lancar kita mulai berubah.  Hati kita mulai dingin!  Kini perkara-perkara duniawi lebih menyita sebagian besar waktu kita.  Kita tenggelam dalam kesibukan mengejar materi sampai-sampai waktu untuk bersekutu dengan Tuhan sudah tidak ada lagi, apalagi terlibat dalam pelayanan.  Kita biarkan Bait Suci menjadi reruntuhan dan kita sibuk membangun dan mempercantik rumah sendiri.  Tuhan berkata,  "...tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1 Korintus 6:19).  Bukan berarti kita semua harus masuk sekolah Alkitab dan menjadi pendeta atau pelayan Tuhan penuh waktu.


Apa pun yang kita miliki:  waktu, tenaga, talenta, karunia, harta dan sebagainya dapat kita persembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan;  jangan hanya memikirkan kepentingan sendiri saja.

RUNTUH 3

Yosua 6:20 dicatat “Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.” Apa hubungan kedua ayat tersebut ?
Dalam kitab Yosua dijelaskan bahwa runtuhnya tembok disebabkan sorak-sorai (Shout). Dalam buku ‘Seni Menyembah’ karya  Selvaraj Sadhu Sundhar (Jakarta : Nafiri Gabriel, Oktober 199) disebutkan salah satu aspek ‘Pujian’ (Praise) adalah Shout. P (Prokliam) – R(Rejoice) – A(Applause) – I (Intimacy) – S(Shout) – E(Expression). Bersorak (shout) lebih dari sekedar bertepuk tangan, tetapi dengan segenap hati dan kekuatan meninggikan Allah dengan sorak– sorai. Bandingkan dengan kegembiraan yang meluap dengan penonton sepak bola piala dunia saat jagoannya menjadi pemenang. Keluar dari hati dan tiap orang memiliki penafsiran yang sangat pribadi tentang ekspresi.
Mungkin saat mereka mengeliling tembok Yerikho yang tebal sebanyak 13 kali, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, yang mereka lihat adalah hanya kemustahilan untuk menembus tembok tersebut. Karena perintah Tuhan hanya tidak boleh bicara “Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah!” (Yos 6:10). Sehingga ketika mereka diperintahkan bersorak, pastilah teriakan yang keluar dari hati yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya karena tidak ada yang dapat mereka lakukan. Alias menyerah. Teriakan seperti itu tentu bukan keluar dari mulut saja atau ikut-ikutan, tetapi pekik sorak yang berwarnakan iman atas kepastian yang Tuhan janjikan.
PELAJARAN DARI RUNTUHNYA YERIKHO
Pelajaran pertama adalah Tuhan tidak pernah mengajar umatNya untuk lari dari persoalan yang ada di hadapannya. Tuhan juga tidak mengambil alih peperangan tersebut. Yang benar adalah Tuhan mengajari kita untuk berperang dengan suatu kepastian bahwa kemenangan pasti menjadi milik kita. Jadi kita harus mau berperang (menghadapi masalah), tetapi kita juga harus ingat bahwa dalam peperangan itu kita tidak sendirian, sebab Tuhan memberikan kemenangan bagi kita.
            Pelajaran kedua adalah Mengalahkan Persungutan. Salah satu pelajaran yang sederhana adalah mengalahkan persungutan.Terlalu mudah bagi Tuhan untuk dapat langsung memberikan Yeriko kepada Israel, tetapi Tuhan lebih memilih untuk mendidik Israel. Mereka harus tertib, tidak berbicara satu kata pun. Selama mengelilingi kota Yerikho, mungkin musuh mengolok-olok atau mencemooh mereka, menganggap hal itu perbuatan bodoh, tetapi orang Israel harus ingat  akan perintah Tuhan agar menjaga sikap dan mulut mereka. Selain itu pernahkah Saudara membayangkan betapa betenya (bosan) ketika mereka disuruh mengelilingi tembok itu dengan cara yang sama dan jarak yang sama setiap hari selama 6 hari.  Bahkan dikatakan hari ke 7 disuruh berkeliling 7 kali. Berarti hari sekalipun hari Sabat , yang adalah hari istirahat, tetap mengelilingi kota tersebut. Akitifitas seperti itu sepertinya pekerjaan yang tak berarti. Mereka hanya diminta berkeliling tanpa melakukan apapun. Rupanya mereka bukan hanya dibentuk untuk bersabar. Sabar mengerjakan walau sepertinya tak ada peluang. Tetapi yang terutama mereka harus meruntuhkan "sungut-sungut" atau "manja" mereka, karena di padang gurun mereka selalu bersungut-sungut.
Pelajaran ketiga penting karena . biasanya orang akan bersorak sorai ketika kemenangan telah diraih. Melalui peristiwa runtuhnya Yerikho kita diajarkan untuk bersorak sebelum menang! Coba diteliti, ketika bunyi sangkakala ditiup panjang, maka mereka harus bersorak sorai, padahal saat itu tembok Yerikho masih tetap berdiri tegak. TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur terlebih dahulu kepada ALLAH sekalipun persoalan yang sedang kita hadapi belum terselesaikan. Inilah prinsip yang harus ada di dalam kehidupan orang Kristen. Jika kita baru dapat bersyukur setelah memperoleh kemenangan, apa bedanya dengan orang yang tidak mengenal TUHAN? . Jadi metode peperangan yang digunakan oleh TUHAN sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh orang dunia.
Pelajaran keempat adalah Tuhan mau melatih kita. Setelah tembok Yerikho runtuh, tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh orang Israel adalah mereka maju dan merebut kota yang telah diruntuhkan itu. Jadi Tuhan tidak mengambil alih peperangan yang sedang kita hadapi, tetapi Ia mengajari kita untuk berperang dan setelah itu kita sendiri harus mau maju menghadapi dan memerangi musuh yang ada di hadapan kita. Melihat metode Tuhan ini, kita ambil suatu kesimpulan bahwa bukan kerja keras yang diposisikan di depan, melainkan ketaatan kepada Allah. Setelah tembok diruntuhkan, barulah kita bekerja keras untuk meraih kemenangan yang telah diberikan Tuhan bagi kita (diambil dari P# 17).

RUNTUH 2

Urutan pasukan yang berkeliling adalah  para prajurit, 7 imam pembawa sangkakala (Shofar), para imam pembawa Tabut Perjanjian, dan barisan penutup. Ketika mengelilingi benteng, tak sepatah kata pun terucap. Namun, pada hari ketujuh, saat sangkakala dibunyikan dan Yosua memerintahkan untuk bersorak, orang Israel harus bersorak nyaring. Segeralah, tembok Yerikho runtuh (Yosua 6:3-5).
            Apa yang menyebabkan tembok Yerikho runtuh? Banyak pengkotbah yang mengajarkan bahwa hal itu terjadi karena Allah mengutus malaikat untuk meruntuhkannya. Ada ilmuwan yang menduga bahwa tembok Yerikho runtuh karena getaran suara (resonansi) Sangkakala dan teriakan bangsa Israel, namun, penelitian menunjukkan robohhnya tembok Yerikho ke luar bukan ke dalam. Ada juga yang mengatakan bahwa tembok Yerikho runtuh karena gempa bumi. Gempa itu bukan hanya menimpa Yerikho saja, tapi juga kota-kota di sekitarnya. Salah satu alasan kenapa bangsa Israel sangat mudah mengalahkan bangsa-bangsa lain adalah karena kota mereka sudah hancur karena gempa bumi. Dalam Yosua 6:5b dikatakan ‘masing-masing langsung ke depan’ (Yos. 6:20b). Ini menunjukkan bahwa tembok Yerikho runtuh total, seluruhnya, kecuali rumah Rahab yang  berada di atas tembok dan mereka selamat (Yos. 2:15 bnd 6:17). Nah bagaimana menjelaskan peristi­wa dimana ada sebagian tembok yang tidak runtuh kalau dianggap gempa bumi?
 Pada kenyataannya bahwa tembok Yerikho roboh bukan karena kekuatan manusia ataupun alam tetapi oleh kuasa Tuhan. Hal ini merupakan suatu mujizat yang luar biasa. Hal tersebut dikatakan penulis Ibrani  “Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya” (Ibrani 11:30). Dalam

RUNTUH

ua 6:1-27 mencatat proses runtuhnya tembok Yerikho tersebut. Perlu diketahui gambaran sekilas tentang Yerikho yang adalah merupakan kota benteng. Luasnya sekitar 4 ha (40.000 m2). Pada tahun 1931 seorang bernama John Garstangmenemukan reruntuhan dari tembok Yerikho, dan dari penemuan itu dikatakan bahwa benteng Yerikho itu terdiri dari 2 lapis tembok. Tembok luar tebalnya 6 kaki (= 1,8 meter). Jarak antara tembok luar dan tembok dalam adalah 12-15 kaki (= 3,6-4,5 meter). Tembok dalam tebalnya 12 kaki (= 3,6 meter). Tinggi tembok adalah 30 kaki (= 9 meter). Belakangan ada orang-orang yang berpendapat bahwa tembok yang ditemukan oleh John Garstang itu bukanlah tembok Yerikho pada jaman Yosua tetapi tembok Yerikho sesudah jaman Yosua. Tetapi bagaimanapun juga, digambarkan dalam Yos 2:15 bahwa di atas tembok Yerikho bisa dibangun rumah, di atas tembok Yerikho itu bisa berjejer delapan kereta kuda berdampingan, dari data tersebut tentu tembok Yerikho itu sangat tebal. Sebetulnya, menurut manusia, benteng Yerikho tidak bisa dihancurkan.
Bagaimana cara yang tepat untuk menembus tembok Yerikho yang tebal dan tertutup rapat itu, dan meraih kemenangan?
RAHASIA KEMENANGAN YOSUA
Kisah runtuhnya Yerikho ini menjadi salah satu kisah Alkitab yang sangat menakjubkan karena robohnya bukan karena digempur dengan bom, dinamit, bahkan rudal, tetapi oleh kuasa Tuhan sendiri. Hal itu sudah dikatakan sebagai janji Tuhan kepada Israel, “Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.” (Yosua 6:2). Bahkan dalam terjemahan NIV : “I have delivered” (Aku telah menyerahkan...) menunjukkan bahwa Tuhan memberi kepastian kemenangan. TUHAN tidak menutupi fakta bahwa di tanah Kanaan yang akan Yosua perangi terdapat raja dan terdapat pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Artinya, masalah yang dihadapi memang bukanlah masalah yang ringan. Tetapi dengan mengikuti apa yang dikatakan TUHAN, maka Ia memberikan jaminan bahwa kemenangan akan kita peroleh.

MENJADI TAAT

Menjadi seorang yang taat tidak semudah membalikkan telapak tangan, bisa dikatakan berat karena setiap hari kita juga harus terus bergumul dengan kedagingan kita.  Namun firman Tuhan tak henti-hentinya menasihati,  "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,"  (1 Petrus 1:14).

     Bila kita mengandalkan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu menjadi seorang yang taat, karena itu "...janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka ia akan meluruskan jalanmu."  (Amsal 3:5b-6).  Tetapi ketika kita mau taat kepada Tuhan, kita akan melihat pengalaman-pengalaman yang luar biasa bersama Dia.  Seringkali kita tidak dapat melihat dan mengalami mujizat dari Tuhan oleh karena satu hal, yaitu kita tidak taat, karena mujizat justru terjadi ketika kita taat.

     Adalah baik bila kita didoakan dan ditumpangi tangan oleh hamba Tuhan ketika sedang sakit, lemah dan dalam pergumulan yang berat karena ada kuasa Tuhan yang bekerja melalui penumpangan tangan tersebut.  Namun Sadarkh, Mesakh dan Abednego mengalami mujizat yang luar biasa bukan karena penumpangan tangan seorang hamba Tuhan;  perkara ajaib dan dahsyat terjadi bagi mereka ketika mereka hidup dalam ketaatan.  Juga Daniel yang dimasukkan ke dalam gua singa.  Mereka adalah pribadi-pribadi yang taat.  Selain menghasilkan mujizat yang luar biasa, ketaatan juga akan membuat seseorang memiliki kekuatan.  Ia tidak akan mudah goyah, putus asa atau frustasi ketika berada dalam penderitaan dan ujian yang berat karena ia tahu kepada siapa ia berharap.  Siapa yang tidak kenal Rasul Paulus?  Meski didera ujian dan penderitaan yang berat karena memberitakan injil ia tetap berdiri tegak dan mampu bertahan.  Dia berkata,  "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?  Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?  Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?  Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  (Roma 8:31b, 35, 37).


Di akhir zaman ini Tuhan sedang mencari orang-orang Kristen yang taat;  kepadanya akan dicurahkan berkat dan kekuatan!